Coba ingat-ingat, mungkin ada satu teman kuliah yang setiap awal semester terlihat sedikit lebih gelisah dari biasanya. Bukan karena takut menghadapi dosen killer atau tugas yang menumpuk, tetapi karena satu hal yang datang secara rutin: tagihan UKT. Di depan teman-temannya, dia mungkin masih terlihat biasa saja. Masih bisa mengikuti perkuliahan, masih membawa laptop, masih sesekali […]
Coba ingat-ingat, mungkin ada satu teman kuliah yang setiap awal semester terlihat sedikit lebih gelisah dari biasanya. Bukan karena takut menghadapi dosen killer atau tugas yang menumpuk, tetapi karena satu hal yang datang secara rutin: tagihan UKT. Di depan teman-temannya, dia mungkin masih terlihat biasa saja. Masih bisa mengikuti perkuliahan, masih membawa laptop, masih sesekali ikut makan bersama teman, dan dari luar kehidupannya tampak baik-baik saja. Tapi siapa yang tahu apa yang terjadi di rumah? Bisa jadi orang tuanya harus membagi penghasilan untuk membayar UKT, kebutuhan rumah, listrik, biaya sekolah adik, cicilan, dan berbagai kebutuhan lainnya. Bisa jadi setiap semester orang tuanya harus menghitung ulang pengeluaran agar uang kuliah tetap bisa dibayarkan. Dan bisa jadi mahasiswa itu sendiri sudah mulai berpikir berkali-kali sebelum meminta uang tambahan kepada orang tuanya.
Di sinilah posisi mahasiswa kelas menengah menjadi menarik sekaligus rumit. Mereka bukan berasal dari keluarga yang bisa dikategorikan miskin, tetapi juga jauh dari kata kaya. Ketika bantuan pendidikan diberikan berdasarkan kondisi ekonomi, mereka bisa saja tidak masuk dalam kelompok penerima. Namun ketika UKT yang harus dibayar cukup tinggi, kondisi ekonomi keluarganya belum tentu benar-benar siap. Mereka berada di tengah-tengah: tidak cukup miskin untuk mendapatkan bantuan, tetapi juga tidak cukup kaya untuk membayar biaya pendidikan tanpa tekanan. Lalu muncul pertanyaan sederhana yang sebenarnya tidak mudah dijawab: kalau tidak miskin, apakah otomatis berarti mampu?
Di Tengah-Tengah, Tapi Justru Paling Terjepit
Kelas menengah sering kali dianggap sebagai kelompok yang berada di posisi aman. Tidak kekurangan secara ekstrem, tetapi juga tidak memiliki kemewahan berlebihan. Masalahnya, kehidupan keluarga tidak pernah sesederhana pembagian kategori tersebut. Penghasilan orang tua yang terlihat cukup di atas kertas belum tentu benar-benar cukup ketika harus digunakan untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga. Sebuah keluarga mungkin memiliki penghasilan tetap setiap bulan, tetapi dari penghasilan tersebut masih harus membayar kebutuhan rumah, transportasi, tagihan, kebutuhan adik, cicilan, hingga biaya pendidikan anak. Ketika UKT yang harus dibayar mencapai angka yang cukup besar, uang yang sebelumnya terasa aman perlahan menjadi semakin sempit.
Yang sering dilihat hanya nominal penghasilan, sementara yang jarang dilihat adalah berapa banyak kebutuhan yang harus ditanggung dari penghasilan tersebut. Inilah yang membuat sebagian mahasiswa kelas menengah merasa berada di posisi yang serba salah. Ketika mengatakan bahwa biaya kuliah terasa berat, mereka mungkin dibandingkan dengan mahasiswa yang benar-benar tidak mampu. Ketika ingin mendapatkan bantuan, kondisi ekonominya bisa dianggap masih cukup. Sementara itu, mereka sendiri tahu bahwa membayar kuliah setiap semester bukan sesuatu yang mudah bagi keluarganya. Mereka tidak miskin, tetapi bukan berarti mereka tidak kesulitan.
“Orang Tua Masih Bisa Bayar, Kan?”
Kalimat “orang tuamu masih bisa bayar, kan?” mungkin terdengar sederhana dan bahkan tidak selalu dimaksudkan untuk menyakiti. Namun masalahnya, kata “bisa” sering kali disamakan dengan “mampu tanpa beban”. Padahal keduanya berbeda. Orang tua mungkin memang masih bisa membayar UKT, tetapi mungkin setelah membayar, ada kebutuhan lain yang harus ditunda. Bisa jadi uang tabungan berkurang, orang tua harus mengambil pekerjaan tambahan, atau ada pengeluaran keluarga yang akhirnya dikorbankan. Kemampuan membayar tidak selalu berarti kondisi keuangan sedang baik-baik saja.
Ada keluarga yang membayar UKT dari pendapatan bulanannya, ada yang sudah menyiapkan tabungan pendidikan, dan ada pula yang membayar sambil berharap bulan depan keadaan sedikit lebih longgar. Dari luar, semuanya terlihat sama karena sama-sama mampu membayar. Namun cerita di balik pembayaran tersebut bisa sangat berbeda. Bagi sebagian mahasiswa, perbedaan itu terasa dalam bentuk rasa bersalah. Mereka mulai berpikir, “Apa aku terlalu banyak meminta?” Setiap ingin membeli sesuatu untuk kebutuhan kuliah, mereka menghitung kembali. Setiap ada kegiatan kampus yang membutuhkan biaya, mereka berpikir dua kali. Bahkan ketika teman-temannya mengajak makan atau pergi bersama, mereka bisa memilih tidak ikut karena sedang berhemat. Bukan karena tidak ingin, tetapi karena ada kebutuhan lain yang terasa lebih penting.
Ketika KIP-K Tidak Menjadi Jalan Keluar
Bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu, KIP-K menjadi salah satu bentuk dukungan yang dapat membantu mereka mengakses pendidikan tinggi. Namun persoalannya, tidak semua mahasiswa yang mengalami tekanan finansial berada pada kondisi yang masuk dalam kategori penerima bantuan. Ada mahasiswa yang memang berada dalam kondisi ekonomi sangat sulit dan membutuhkan bantuan, tetapi ada pula mahasiswa yang secara administratif terlihat lebih mampu meskipun sebenarnya sedang berjuang keras untuk mempertahankan kuliahnya. Kelompok kedua inilah yang sering berada di wilayah abu-abu.
Mereka mungkin tidak memenuhi kriteria tertentu untuk mendapatkan KIP-K atau bantuan pendidikan lainnya. Namun di sisi lain, mereka juga tidak memiliki kemampuan finansial seperti keluarga yang benar-benar berada. Akhirnya mereka berada di antara dua dunia. Ketika melihat mahasiswa yang mendapatkan bantuan, mereka mungkin ikut bersyukur sekaligus bertanya-tanya, “Kalau aku juga sedang kesulitan, kenapa aku tidak dianggap membutuhkan?” Namun ketika membandingkan dirinya dengan mahasiswa yang benar-benar berasal dari keluarga kurang mampu, mereka kembali merasa tidak pantas mengeluh. Akhirnya keluhan itu disimpan sendiri.
Yang Terlihat Mampu Belum Tentu Sedang Baik-Baik Saja
Ada satu kesalahan yang sering kita lakukan ketika menilai kondisi ekonomi seseorang, yaitu terlalu cepat menyimpulkan dari apa yang terlihat. Punya laptop bukan berarti kaya. Punya kendaraan bukan berarti tidak punya masalah keuangan. Bisa membayar UKT bukan berarti keluarganya berkecukupan. Bahkan bisa makan dengan cukup setiap hari pun tidak otomatis berarti seseorang memiliki ruang finansial yang luas. Kondisi ekonomi seseorang jauh lebih kompleks daripada barang yang dipakai atau kemampuan membayar satu tagihan.
Seorang mahasiswa bisa saja menggunakan laptop pemberian orang tuanya sejak SMA. Kendaraannya mungkin juga bukan kendaraan baru. Rumah yang ditempatinya mungkin sudah dimiliki keluarganya sejak lama. Namun ketika biaya kuliah naik dan kebutuhan keluarga bertambah, kemampuan finansialnya bisa berubah secara signifikan. Sayangnya, kita sering lebih mudah melihat sesuatu yang tampak daripada beban yang tidak terlihat. Karena itu, mahasiswa kelas menengah terkadang merasa tidak memiliki ruang untuk mengeluh. Ketika mereka berkata UKT mahal, ada yang menjawab, “Masih banyak yang UKT-nya lebih tinggi.” Ketika mereka berkata biaya hidup berat, ada yang menjawab, “Setidaknya kamu masih bisa kuliah.” Ketika mereka menginginkan bantuan, mungkin ada yang mengatakan, “Kamu masih lebih mampu dibanding mereka yang benar-benar miskin.” Semua kalimat tersebut mungkin benar dalam konteks tertentu, tetapi tetap saja tidak menghapus kesulitan yang mereka rasakan.
UKT Bukan Sekadar Angka di Lembar Pembayaran
Bagi kampus, UKT mungkin terlihat sebagai angka yang harus dibayarkan mahasiswa setiap semester. Namun bagi keluarga, angka tersebut bisa berarti berapa banyak uang yang harus disisihkan dari penghasilan bulanan. Bagi orang tua, UKT bisa berarti tambahan beban setelah bertahun-tahun membiayai kebutuhan keluarga. Bagi mahasiswa, UKT bisa berarti rasa takut ketika melihat saldo rekening orang tua. Karena itu, membicarakan UKT seharusnya tidak hanya membicarakan apakah nominal tersebut mahal atau murah. Pertanyaan yang lebih penting adalah: mahal bagi siapa?
Nominal yang sama bisa terasa ringan bagi satu keluarga dan sangat berat bagi keluarga lainnya. Itulah sebabnya persoalan biaya pendidikan tidak cukup jika hanya dilihat dari kemampuan seseorang untuk membayar. Kita juga perlu melihat apa yang harus dikorbankan agar pembayaran tersebut bisa dilakukan. Sebab jika seseorang harus mengorbankan kebutuhan pokok, tabungan darurat, atau kestabilan keluarganya demi membayar kuliah, apakah kita masih bisa menyebutnya benar-benar mampu?
Mahasiswa Tidak Seharusnya Merasa Bersalah Karena Berasal dari Kelas Menengah
Menjadi mahasiswa dari keluarga kelas menengah seharusnya bukan sesuatu yang membuat seseorang merasa bersalah. Mereka tidak memilih dilahirkan dalam keluarga dengan kondisi ekonomi tertentu. Mereka juga tidak bisa menentukan apakah pendapatan orang tuanya akan cukup untuk menghadapi kenaikan biaya hidup, kebutuhan keluarga, dan biaya pendidikan yang terus berjalan. Yang mereka inginkan sebenarnya sederhana: mendapatkan kesempatan untuk belajar tanpa membuat keluarganya harus tercekik.
Mereka ingin kuliah dengan tenang, mengerjakan tugas tanpa terus memikirkan uang, mengikuti kegiatan kampus tanpa selalu menghitung biaya, dan yang paling sederhana, bisa mengatakan kepada orang tuanya bahwa kuliah mereka tidak menjadi beban yang terlalu berat. Mungkin sudah waktunya kita berhenti melihat kondisi ekonomi hanya dalam dua warna: miskin dan tidak miskin. Karena di antara keduanya ada banyak keluarga yang sedang berjuang. Ada keluarga yang terlihat baik-baik saja, tetapi setiap bulan harus menghitung pengeluaran dengan hati-hati. Ada orang tua yang terlihat mampu membayar UKT, tetapi sebenarnya harus mengorbankan banyak hal. Ada mahasiswa yang terlihat santai di kampus, tetapi diam-diam memikirkan bagaimana keluarganya akan membayar semester berikutnya.
Mereka bukan tidak bersyukur. Mereka hanya sedang lelah.
Pada akhirnya, persoalannya bukan semata-mata apakah mahasiswa tersebut mampu membayar UKT atau tidak. Persoalannya adalah apakah pendidikan tinggi seharusnya membuat keluarga harus memilih antara memenuhi kebutuhan hidup dan mempertahankan pendidikan anaknya. Karena mungkin, ukuran kemampuan yang selama ini kita gunakan perlu dipertanyakan kembali. Sebab “masih bisa membayar” tidak selalu berarti “tidak sedang tercekik.”
Dan di antara label miskin dan kaya, ada mahasiswa kelas menengah yang hanya ingin satu hal: tetap bisa kuliah tanpa harus merasa bersalah karena keluarganya tidak cukup miskin untuk dibantu, tetapi juga tidak cukup kaya untuk merasa aman.